Apakah Apartheid Sudah Benar-Benar Berakhir? Ini Faktanya

Table of Contents

SerbaGratis95.site - Puluhan tahun yang lalu, di Afrika Selatan, penduduk kulit hitam asli mengalami penindasan yang sistematis. 

Mereka diusir dari rumah mereka sendiri, diancam, ditakut-takuti, dan tanah mereka dirampas.
Pemerintah pada masa itu menerapkan kebijakan rasis yang membedakan tempat tinggal berdasarkan warna kulit. 

Penduduk kulit hitam, meskipun merupakan mayoritas, hanya diberikan akses ke 13% lahan negara. Lahan yang sempit ini jauh dari kata cukup untuk menopang populasi besar mereka. 

Di sisi lain, penduduk kulit putih yang merupakan minoritas menikmati sebagian besar tanah dan kekayaan.

Tidak hanya soal lahan, penduduk kulit hitam juga dibatasi dalam banyak aspek kehidupan.
Mereka tidak bisa bebas mengakses tempat-tempat umum, seperti taman atau transportasi, yang dikhususkan untuk warga kulit putih. 

Bahkan hak dasar mereka untuk memilih pemimpin sendiri pun dicabut. Inilah yang dikenal dengan sistem ‘Apartheid’, sebuah sistem negara rasis yang secara resmi menindas warga negara berdasarkan warna kulit.

Apakah Apartheid Sudah Benar-Benar Berakhir

Mengapa Apartheid Bisa Terjadi?

Untuk memahami mengapa Apartheid bisa terjadi, kita harus melihat sejarah penjajahan Afrika Selatan terlebih dahulu. 

Dulu, Belanda dan Inggris telah menjelajahi wilayah tersebut selama beberapa abad sebelumnya, dan selama itu, berbagai kebijakan rasis sudah mulai diterapkan. 

Namun, titik balik dari penerapan resmi Apartheid terjadi pada Pemilu tahun 1948, ketika ‘Partai Nasional (National Party)’, sebuah partai yang terang-terangan mendukung segregasi rasial, memenangkan pemilihan. 

Perlu diingat, pemilu ini tidak adil karena yang diperbolehkan memilih hanyalah penduduk kulit putih.
Partai Nasional kemudian menerapkan kebijakan brutal yang membedakan hak dan kewajiban seseorang berdasarkan ras. 

Akses terhadap fasilitas-fasilitas publik seperti sekolah, rumah sakit, dan tempat tinggal yang layak hanya bisa dinikmati oleh orang kulit putih saja. 

Sekolah-sekolah untuk warga kulit hitam menerima dana yang sangat minim, dan pendidikan yang diberikan hanya berfokus pada keterampilan fisik dan rumah tangga, bukan ilmu pengetahuan atau keterampilan yang lebih luas.

Namun, warga kulit hitam tidak tinggal diam.

Para warga kulit hitam melakukan berbagai protes damai dan taktik non-kekerasan untuk menuntut hak mereka. 

Salah satu contohnya adalah kampanye boikot dan mogok kerja yang bertujuan melemahkan ekonomi apartheid. 

Sayangnya, protes damai ini sering kali dibalas dengan kekerasan oleh pihak berwenang, bahkan mengakibatkan banyak korban jiwa.

Ketika cara-cara damai tidak berhasil, beberapa kelompok mengambil langkah lebih drastis, seperti sabotase infrastruktur pemerintah. 

Pemimpin gerakan perlawanan, seperti ‘Nelson Mandela’, dipenjara seumur hidup akibat keterlibatannya dalam perlawanan terhadap sistem ini. 

Namun, meski Mandela dipenjara, suara perlawanan terus menggema, baik dari dalam maupun luar negeri. 

Banyak negara di dunia, termasuk Jepang dan Swedia, memberikan sanksi ekonomi terhadap Afrika Selatan, melarang negara itu melakukan transaksi perdagangan internasional. 

Afrika Selatan bahkan dikeluarkan dari ajang-ajang internasional seperti Olimpiade.

Tekanan internal dan eksternal ini akhirnya memaksa pemerintah Afrika Selatan untuk berdiskusi dengan berbagai pihak. 

Setelah bertahun-tahun pembicaraan, antara tahun 1990-1994, sistem Apartheid resmi dihapuskan.
Pemilu yang adil pertama kali diadakan, dan Afrika Selatan akhirnya memiliki presiden kulit hitam pertama, yakni ‘Nelson Mandela’.

Apakah Apartheid Sudah Benar-Benar Berakhir?

Sayangnya, meskipun Apartheid resmi dihapuskan di Afrika Selatan, bayangannya masih terlihat di belahan dunia lain, terutama di Palestina. 

Pengadilan Internasional (International Court of Justice, ICJ) telah menyatakan bahwa pendudukan Israel di wilayah Palestina adalah ilegal dan melanggar hukum internasional. 

Banyak dari tindakan yang dilakukan Israel mencerminkan kebijakan Apartheid yang pernah diterapkan di Afrika Selatan.

Misalnya, perampasan lahan warga Palestina, penghancuran rumah-rumah warga, dan pemisahan keluarga adalah hal yang sering terjadi di wilayah tersebut. 

Banyak pos pemeriksaan yang mempersulit pergerakan warga Palestina, dan mereka sering kali kesulitan mendapatkan akses air bersih serta sumber daya alam lainnya. 

Sistem ini menciptakan kondisi yang sangat tidak adil, mirip dengan apa yang dialami penduduk kulit hitam di bawah Apartheid di Afrika Selatan.

Meskipun berbagai negara telah memberikan peringatan dan tekanan diplomatik kepada Israel, belum ada hukuman nyata yang membuat Israel berhenti melanggar aturan. Hal ini membuat situasi di Palestina tetap penuh ketidakadilan.

Pesan Nelson Mandela untuk Dunia

Nelson Mandela pernah berkata bahwa "Kebencian itu tidak alami. Tidak ada orang yang lahir dengan membenci orang lain karena warna kulit atau latar belakang mereka. Jika seseorang bisa belajar tentang kebencian, mereka juga bisa belajar tentang kasih sayang dan menghargai perbedaan."

Pernyataan Mandela ini menjadi pengingat kuat bagi kita semua bahwa diskriminasi dan kebencian berdasarkan ras tidak boleh dibiarkan tumbuh. 

Apartheid mungkin sudah resmi dihapus di Afrika Selatan, tetapi perjuangan melawan ketidakadilan dan diskriminasi harus terus berlanjut, di mana pun itu terjadi, termasuk di Palestina. 

Sebab, rasa kasih sayang dan saling menghargai adalah kunci untuk menciptakan dunia yang lebih baik, di mana semua orang bisa hidup setara tanpa memandang warna kulit atau asal-usul.

Kesimpulan

Apartheid adalah sistem diskriminasi rasial yang meninggalkan luka mendalam dalam sejarah Afrika Selatan, dan bayangannya masih terlihat di berbagai belahan dunia, termasuk Palestina. 

Meskipun telah dihapus secara resmi, pengingat akan ketidakadilan ini harus tetap menjadi pelajaran bagi kita semua. 

Seperti yang diajarkan Nelson Mandela, kebencian tidak lahir secara alami, dan setiap orang memiliki kapasitas untuk belajar mencintai serta menghargai perbedaan. 

Satu hal yang pasti, perjuangan melawan rasisme dan ketidakadilan harus terus dilanjutkan hingga dunia benar-benar bebas dari sistem-sistem penindasan semacam ini. Sekian dan semoga bermanfaat.

Cak Nun
Cak Nun Seorang bloger muda yang hanya memikirkan kata "berusaha, berdoa dan pasrah" tak lupa akan syukur atas apa yang di berikan.

Posting Komentar