Apakah Sifat Dasar Manusia Baik atau Jahat?

Table of Contents

SerbaGRatis95.site - Mungkin kamu pernah menonton berita tentang kisah remaja yang melakukan tindakan kejam, bahkan hingga menghilangkan nyawa seseorang. 

Namun, di sisi lain, ada juga berita tentang anak yang bekerja keras demi keluarganya. Padahal, ia masih bocah yang seharusnya belajar di sekolah.

Dua kasus ini mungkin membuat kita bertanya-tanya, mengapa manusia bisa sejahat itu dan mengapa ada juga orang yang sangat baik? Lantas, apakah sifat atau naluri dasar manusia? Apakah kita terlahir baik atau justru sudah memiliki bibit kejahatan?

Apakah Sifat Dasar Manusia Baik atau Jahat?

Apakah Sifat Dasar Manusia Baik atau Jahat?

Pertanyaan serupa sebenarnya telah menjadi topik pembahasan ilmuwan sejak lama. Pada zaman dahulu, pemikir seperti John Locke, Jean-Jacques Rousseau, dan J.B. Watson percaya bahwa bayi lahir seperti kertas putih kosong, dan semua sifat baik atau buruk yang dimilikinya berasal dari pengalaman dan lingkungannya. 

Pandangan ini dikenal sebagai ‘tabula rasa’, yang menyatakan bahwa lingkungan memainkan peran penting dalam membentuk karakter seseorang. 

Namun, penelitian terbaru menunjukkan bahwa bayi sebenarnya sudah memiliki pemahaman dasar tentang baik dan jahat. 

Mereka menyimpulkan bahwa manusia sudah memiliki empati, rasa keadilan, dan kecenderungan untuk menolong orang lain sejak lahir. 

Dengan kata lain, setiap dari individu memiliki bibit kebaikan, tetapi hasil akhirnya tergantung pada bagaimana bibit ini dirawat oleh lingkungan dan pengalaman hidupnya.

Lalu, bagaimana dengan bibit kejahatan? Apakah ada orang yang memang terlahir dengan kecenderungan untuk menjadi jahat? 

Menariknya, ada penelitian yang menunjukkan bahwa faktor genetik dapat juga berperan dalam perilaku jahat. Misalnya, gen MAO-A, yang bertanggung jawab mengatur produksi hormon kebahagiaan di otaknya. 

Orang-orang dengan kerusakan pada gen ini cenderung lebih impulsif dan agresif, sehingga lebih mudah melakukan kejahatan dan bersikap kasar.

Contohnya pada kasus Bradley Waldroup, seorang pembunuh dari AS, yang memiliki kelainan pada gen tersebut. 

Namun, memiliki gen ini tidak otomatis membuat seseorang menjadi jahat. Professor James Fallon, yang meneliti soal ini, juga ternyata memiliki kelainan gen serupa. 

Perbedaan utama antara keduanya adalah lingkungan tempat mereka dibesarkan. Waldroup memiliki masa kecil yang sulit, sedangkan Fallon dibesarkan dengan penuh kasih sayang.

Selain faktor genetik dan lingkungan, ada pandangan evolusioner yang menarik untuk dibahas. Ilmuwan Richard Dawkins, misalnya, menyatakan bahwa manusia pada dasarnya egois karena gen kita hanya peduli untuk bertahan hidup selama mungkin. 

Namun, cara terbaik untuk gen bertahan hidup adalah dengan membuat mahluk sebagai pembawa gen bisa bertahan hidup juga. Untuk melakukan itu, ternyata lebih menguntungkan jika orang orang hidup dalam kelompok. 

Oleh karena itu, gen-gen manusia juga memprogram dirinya untuk memiliki sifat-sifat yang memungkinkan kita hidup bersama, seperti empati, simpati, kerja sama, dan pengorbanan diri.

Kesimpulan

Jadi, apakah manusia terlahir baik, jahat, atau yang lainya? Mungkin jawabannya adalah manusia memiliki potensi untuk keduanya. Tapi, manusia juga bisa menentukan sifat tersebut kalau ia mau belajar.

Pada akhirnya, kemampuan untuk memilih menjadi orang yang seperti apa ada di tanganmu. Lingkungan dan pengalaman hidup memainkan peran penting dalam membentuk siapa dirimu. 

Meskipun manusia mungkin memiliki kecenderungan genetik tertentu, pilihan untuk menjadi baik atau jahat tetap berada dalam kendalinya.

Bagaimana menurutmu? 

Apakah manusia terlahir baik atau buruk? Mungkin manusia memang memiliki potensi untuk menjadi baik atau jahat, tetapi pada akhirnya, dirinya sendirilah yang memutuskan ingin menjadi orang seperti apa. Sekian dan semoga bermanfaat.

Cak Nun
Cak Nun Seorang bloger muda yang hanya memikirkan kata "berusaha, berdoa dan pasrah" tak lupa akan syukur atas apa yang di berikan.

Posting Komentar